Dashboard Strategi Ekonomi & Fiskal: Bauksit, Alumina & Aluminium
Analisis kebijakan fiskal dan ekonomi untuk meningkatkan nilai tambah komoditas mineral Indonesia.
Kondisi Saat Ini
- Produksi bauksit turun dari 32 juta ton (2024) menjadi 16,8 juta ton (2025) akibat larangan ekspor mentah.
- Kapasitas alumina meningkat dengan beroperasinya SGAR Mempawah dan WHW Ketapang, target 2 juta ton/tahun.
- Aluminium masih terbatas di 275–300 ribu ton, namun memiliki nilai tambah hingga 100x dibanding bauksit.
Tantangan
- Investasi besar untuk smelter dan energi.
- Ketergantungan teknologi asing.
- Daya saing global terhadap produsen besar seperti China dan Australia.
Strategi Fiskal
- Tax Holiday: Meningkatkan investasi hingga US$7 miliar, meskipun penerimaan negara jangka pendek turun.
- PNBP Progresif: Memberikan insentif untuk produk hilir, menjaga penerimaan negara.
- Harga Patokan Mineral (HPM): Menghindari undervaluasi bauksit.
Dampak Ekonomi
Hilirisasi dapat meningkatkan ekspor aluminium dari US$1,4 miliar menjadi potensi US$5–6 miliar dalam 5 tahun. Multiplier effect: penciptaan lapangan kerja, pengembangan kawasan industri, dan transfer teknologi.
Rekomendasi Kebijakan
- Kombinasi tax holiday + PNBP progresif agar investasi masuk tanpa mengorbankan penerimaan negara.
- Subsidi listrik untuk smelter aluminium karena intensitas energi tinggi.
- Program pelatihan operator smelter dan insinyur proses.
- KPBU untuk percepatan pembangunan kawasan industri.
Grafik Kontribusi Smelter
Grafik Kontribusi Per Kabupaten
Indikator Harga & Nilai Tambah
| Komoditas | Harga (USD) | Nilai Tambah vs Bauksit |
|---|---|---|
| Bauksit | 31/ton | - |
| Alumina | 200-300/ton | ~6-10x |
| Aluminium | 3100/ton | ~100x |
Simulasi Interaktif Nilai Tambah
Grafik Nilai Tambah Total
